Pelaku Pembajakan EgyptAir Akhirnya Menyerah


Tribunpos - Pria berkewarganegaraan Mesir yang membajak pesawat EgyptAir dan memaksa mengubah rute penerbangan ke Siprus untuk menemui mantan istrinya, telah menyerah pada Selasa (29/3). Sebelum menyerah, terjadi aksi penyanderaan di bandara selama enam jam, yang berakhir damai.

Pembajak itu, digambarkan oleh para petugas sebagai sosok yang tak stabil. Bahkan dia mengaku mengenakan sabuk bom, meski tidak ditemui bahan peledak usai menyerahkan diri di bandara Larnaca dan ditangkap.

Sebanyak 55 penumpang segera dibebaskan begitu pesawat mendarat, tapi beberapa berhasil lolos beberapa menit setelah pelaku pembajakan menyerah, termasuk salah seorang pria yang terlihat memanjat keluar melalui jendela kokpit.

“Ini bukan tentang terorisme. Ini lebih kepada aksi perseorangan dari seseorang yang secara psikologis tidak stabil,” ujar Menteri Luar Negeri Siprus Alexandros Zenon.

Menteri Dalam Negeri Mesir mengidentifikasi pria itu bernama Seif al-Din Mohamed Mostafa.

Pria tersebut dilaporkan telah menjatuhkan surat berbahasa Arab di landasan pesawat dan meminta senjumlah tuntutan aneh, termasuk ingin menemui mantan isterinya yang warga negara Siprus beserta anaknya.

Polisi menyebutkan sang wanita dan anaknya dibawa ke bandara, namun tidak ada penjelasan lebih lanjut.

Sebelumnya dilaporkan bahwa ada seorang pembajak yang merebut kendali pesawat Mesir dan memaksanya untuk mendarat di Siprus, pada Selasa (29/3). Seluruh penumpang juga segera dilepaskan dan para pejabat mengatakan insiden itu tidak terkait dengan terorisme.

Pesawat EgyptAir mendarat di bandara yang terletak di bagian selatan kota pesisir Larnaca, pukul 08.50 pagi waktu setempat, setelah pembajak menghubungi menara pengawas 20 menit lebih awal, menuntut perubahan jalur penerbangan.

Penerbangan sipil Mesir mengatakan dia mengancam meledakkan pesawat jenis Airbus A-320 dengan sabuk peledak. Saat kejadian, pesawat ini sedang dalam perjalanan dari kota pesisir Mediterania, Alexandria menuju Kairo.

Sebelumnya EgyptAir menyampaikan telah bernegosiasi dengan pembajak yang akhirnya berujung pada pembebasan seluruh penumpang, kecuali awak pesawat dan empat warga negara asing.

Dalam pernyataan kementerian penerbangan sipil, pesawat itu mengangkut 21 warga negaa asing, termasuk delapan warga Amerika, empat warga Belanda, empat warga Inggris, dan seorang warga Prancis.

Fathy menyampaikan ada 55 penumpang yang ada di dalam pesawat dan pembajak menuntut agar pesawat mendarat di Turki atau Siprus.

“Dia tidak mempunyai senjata atau apapun. Kami belum tahu apakan sabuk peledaknya sungguhan, tapi demi keselamatan penumpang kami menganggapnya sungguhan,” ujar Fathy.

Presiden Siprus, Nicos Anastasiades mengatakan kepada wartawan, insiden itu tampaknya didorong oleh alasan pribadi.

“Pembajakan ini tidak terkait dengan terorisme,” katanya dalam konferensi pers, bersamaan dengan kunjungan Presiden Parlemen Eropa Martin Schulz.
Baca juga : Kapal Selam Canggih yang Dipesan RI dari Korsel Mulai Melaut
Saat ditanya mengenai laporan bahwa sang pembajak menuntut menemui seorang wanita Siprus, Anastasiades menjawab dengan tertawa dan berkata “Selalu karena seorang wanita.”(brt1)
Powered by Blogger.